Seingatku, aku berdo'a cukup sering walaupun tak setiap waktu. Lebih2 ketika meghadapi masalah atau punya hajat tertentu. Sejak kecil ibuku mengajarkan aku untuk selalu berdoa memohon ampun, diberi panjang umur, rizki yang lebar, dimudahkan urusannya, dan mati khusnul khatima. Aku selalu mengingat pesan ibu tersebut sampai aku dewasa namun seringkali pesan itu hanya kuingat tanpa kukerjakan.
Bahkan, ada saat tertentu aku merasa capek terus-terusan berdoa tanpa tahu kapan doaku akan dikabulkan. Sedangkan banyak diantara mereka yang tak pernah berdo'a selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Aku protes padaNYA dengan megabaikan perintah dan mencicipi larangannya. Ya, aku tahu itu dosa tapi aku menikmatinya kala itu. Kupikir, untuk apa aku berdoa jika hampir semua doa yang kupanjatkan bersama derai air mata tak kunjung menjadi nyata. Aku mencoba introspeksi, apakah do'aku terlalu tinggi dan tidak masuk akal? Kurasa tidak, do'aku standard saja dan hey, bukankah Engkau maha segalanya? Apa yang tidak mungkin jika dalam kitab suci tertulis kun fa yakun, terjadilah, maka terjadilah.
Begitulah aku melupakan do'aku sampai Engkau mengingatkanku melalui seorang kawan yang meminjamkan bukunya padaku. Dalam buku itu ada salah satu hadist (aku lupa bunyinya) yang kurang-lebih artinya Allah senang mendengar hambanya yang shalih/shaliha berdo'a dan Ia malu jika tidak mengabulkan do'a hambanya itu.
Sekarang aku tahu, Engkau masih menyayangiku, Engkau senang mendengar do'aku. Karena itu tak segera Kau kabulkan supaya aku terus berdo'a padaMu. Astaghfirullah......
ps: buku yang dimaksud adalah "Catatan Hati di Setiap sujudku" ditulis oleh Asma Nadia

No comments:
Post a Comment